logo-header

Kanker Darah Sering Menyerang Lansia, Berpeluang Remisi Dengan Kemoterapi


Informasi tentang mantan Ibu Negara Ani Yudhoyono yang didiagnosis mengidap kanker darah membuka mata kita bahwa kanker bisa menyerang siapa saja. Termasuk lansia.

 

KANKER darah merupakan jenis kanker yang paling sering menyerang usia di atas 50 tahun. Terdapat tiga jenis kanker darah: leukemia, limfoma, dan mieloma.

 

Dokter Made Putra Sedana SpPD KHOM menyatakan, multiple myeloma menjadi jenis kanker yang paling banyak dikeluhkan pasien lanjut usia. "Kemudian, yang kedua adalah limfoma, lalu leukemia. Tapi, memang yang paling berbahaya adalah leukemia. Apalagi leukemia akut," jelasnya.

 

Mengutip Institut Kanker Nasional Amerika Serikat, diagnosis leukemia sering ditemui pada kalangan lansia usia 65–74 tahun. Penyakit itu ditandai dengan blast atau naiknya produksi sel darah putih baru. Menurut dokter Made, penanganan leukemia pada lansia sama dengan tahapan usia lainnya.

 

"Wajib kemoterapi dan kontrol rutin. Targetnya, menekan jumlah darah putih hingga normal," tegasnya. Karena itulah, di tahap awal, kemoterapi dilakukan seminggu tanpa putus. "Sel darah putih muda dimatikan semua," lanjut dokter Made.

 

Pada tahap tersebut, kadar trombosit dan hemoglobin cenderung turun. Biasanya bakal dilakukan transfusi.

 

Internis yang berpraktik di Adi Husada Cancer Center (AHCC) itu menilai, setelah tahapan tersebut, pasien perlu menjalani perawatan intensif selama minimal sebulan. Pada hari ke-28 pasca- kemoterapi, kondisi pasien akan dievaluasi. Jika hasil baik, pengobatan dilanjutkan dengan pemberian kemoterapi dosis tinggi sebanyak empat kali dalam kurun tiga bulan. "Kalau belum mencapai target, bakal kembali ke siklus awal lagi," katanya.

 

Dokter Made menuturkan, pasien tidak perlu khawatir mengalami dampak buruk kemoterapi. Sebab, pengobatan itu bertujuan mencegah dampak yang lebih buruk. Pada beberapa kasus, jumlah leukosit yang terlalu tinggi bisa memicu leukostasis. "Sel-sel tubuh enggak dapat asupan oksigen. Organ seperti jantung dan paru-paru bisa terdampak," ungkap dokter Made.

 

Di sisi lain, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya itu mengungkapkan bahwa pasien leukemia yang menjalani pengobatan berisiko mengalami infeksi. Sebab, sel darah putih yang bertugas melawan bakteri atau benda asing yang masuk tubuh berkurang akibat pengobatan. "Makanya, butuh kontrol berkala, apakah butuh antibiotik atau tidak. Sebab, jika infeksi dibiarkan, yang paling dikhawatirkan adalah timbul sepsis," terang dokter Made.

 

Mengutip data Institut Kanker Nasional Amerika Serikat, kalangan lansia yang menjalani kemoterapi intensif punya kans 55–60 persen mendapat remisi. Artinya, gejala dan tanda-tanda kanker hilang meski masih ada sel kanker dalam tubuh.

 

Di samping itu, menurut dokter Made, tingkat keberhasilan pengobatan pada lansia mencapai 15–20 persen. Proses recovery-nya pun terhitung lebih lama jika dibandingkan dengan pasien berusia muda. Sebab, pasien lansia kerap memiliki penyakit lain yang menyertai. Di antaranya, kencing manis, hipertensi, dan gagal jantung. Itulah yang membuat pengobatan kanker pada pasien lansia lebih rentan. (fam/adn/c14/jan)

 

Artikel ini terbit di Rubrik For Health Jawa Pos Edisi 19 Februari 2019, hal 7.

OTHER NEWS & ARTICLES