logo-header

Kanker Kolorektal: Waspadai Gejala yang Sering Tak Terasa di Tahap Awal


Dokter Made Putra SedanaPada stadium awal, kanker kolorektal jarang terdeteksi secara dini, karena kanker ini umumnya muncul dengan gejala yang wajar. Sekitar 25% pasien kanker kolorektal terdiagnosa pada stadium lanjut ketika kanker telah menyebar ke organ lain. Pada kondisi ini pengobatan menjadi lebih sulit, mahal dan tingkat keberhasilan rendah. Karena itu penting untuk mewaspadai tanda dan gejala awal kanker kolorektal. Apalagi kanker ini erat terkait dengan kerentanan genetik dan lingkungan.

 

KANKER KOLOREKTAL MERUPAKAN KANKER PERINGKAT KETIGA DI DUNIA YANG MEMATIKAN. DI INDONESIA, PENYAKIT INI BERADA DI POSISI TIGA UNTUK WANITA DAN POSISI DUA UNTUK PRIA. 

 

Kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon) atau rektum ini dapat bermula dari polip yang tumbuh di sepanjang permukaan dalam usus besar serta rektum. Hanya saja, tumbuhnya sel-sel abnormal yang menyebabkan kanker itu tidak diketahui secara pasti. Namun, skrining terhadap polip dapat mendeteksi kanker kolorektal secara dini.
 

FAKTOR RISIKO

Waspadai beberapa faktor risiko yang bisa memicu pertumbuhan kanker, seperti pengaruh usia. Semakin bertambah usia, semakin meningkat risikonya. Kanker ini diperkirakan diidap oleh 9 diantara 10 orang yang berusia 50 tahun atau lebih. Selain itu, faktor keturunan. Orang dengan anggota keluarga mengidap kanker atau polip kolorektal, memiliki risiko lebih tinggi terserang kanker kolorektal.
 
Gaya hidup seseorang juga bisa menjadi pemicu terkena kanker ini. Mereka yang kurang olahraga, kekurangan asupan serat, konsumsi minuman keras, kelebihan berat badan, obesitas, atau merokok juga memiliki potensi terserang kanker kolorektal. Termasuk bagi seseorang yang mengidap penyakit Crohn dan kolitis ulseratif lebih dari 9 tahun.
 

GEJALA & DETEKSI

Gejala kanker kolorektal biasanya akan dirasakan oleh pasien ketika kanker sudah menyebar dan merang organ tubuh yang lain. Gejalanya juga tergantung pada lokasi tumbuhnya kanker. Gajala umumnya terjadi antara lain meliputi diare atau konstipasi serta proses buang air besar yang terasa tidak tuntas.
 
Ditandai pula adanya darah pada tinja, meski tidak banyak, serta tinja yang disertai lendir. Disertai dengan mual, muntah, sakit perut, lemas, dan cepat lelah. Seorang penderita juga mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Pada tahap awal, gejala kanker kolorektal sering tidak terasa. Karena itu, pemeriksaan secara rutin patut dilakukan untuk deteksi dini. Beberapa pemeriksaan yang dipakai guna memastikan diagnosis antara lain kolonoskopi. Pemeriksaan ini merupakan evaluasi kondisi bagian dalam rektum dan usus besar.
 
Selanjutnya pemeriksaan biopsi atau pengambilan sampel jaringan pada sel-sel abnormal untuk diperiksa di laboratorium. Biopsi dilakukan untuk memastikan diagnosis, sementara USG, rontgen, CT dan MRI scan untuk melihat penyebaran kanker dan menentukan tahap perkembangan kanker (staging). Selain untuk diagnosis, metode metode pemeriksaan tersebut juga dilakukan untuk mengetahui perkembangan serta tingkat penyebaran kanker.
 

PENGOBATAN

Diagnosis dan pengobatan kanker kolorektal sedini mungkin akan meningkatkan kemungkinan sembuh pada penderita. Namun, jika kanker sudah berkembang pada stadium lanjut, langkah pengobatan harus dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus meringankan gejala-gejala yang dialami oleh pasien. Sama seperti kanker-kanker yang lain, pengobatan kanker kolorektal biasanya meliputi operasi, kemoterapi, dan radioterapi.
 
Kombinasi ketiga langkah pengobatan tersebut tergantung pada berbagai faktor, seperti kondisi kesehatan pasien serta tingkat perkembangan dan penyebaran kanker.
 

Ditulis oleh

Dr. Made Putra Sedana, SpPD.KHOM

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Darah dan Kanker

Adi Husada Cancer Center (AHCC) Surabaya.

Artikel ini terbit di Majalah SCG Edisi Mei 2018

OTHER NEWS & ARTICLES