logo-header

dr. Bambang Widjanarko

Sp. Rad (K) Onk. Rad

dr. Bambang Widjanarko
dr. Bambang Widjanarko
Sp. Rad (K) Onk. Rad

Education :
  • Kedokteran (FK. Unair)
  • Specialis Radiologi (FK. Unair)
  • Dokter Spesialis Radiologi Konsultan Onkologi Radiasi (Rotterdamsche Instituut)
  • Dokter Spesialis Radiologi Konsultan Onkologi Radiasi (RSCM Jakarta)
Expertise : Onkologi Radiasi
BIOGRAPHY

Bekerja dengan ritme yang cepat dan padat kerap membuat seseorang merasa cepat lelah. Inilah yang dirasa oleh dr. Bambang Widjanarko Sp. Rad(K) Onk. Rad. Ditengah rutinitasnya sebagai dokter onkologi radiasi senior. Oleh karenanya, bila memiliki waktu santai, dokter Bambang memanfaatkannya dengan istirahat. Menurut dokter Bambang, istirahat merupakan “me time”, dimana dirinya akan betul-betul merelaksasi jiwa dan raganya.

 

Dokter Bambang mengakui bahwa dirinya tidak memiliki banyak waktu untuk istirahat. Maka ketika mendapat momen tersebut, dirinya akan memanfaatkan untuk tidur. Istirahat bagi dokter lulusan Radioterapi Onkologi Rotterdam ini, selain untuk melepas lelah juga merupakan kebutuhan. Jika tubuh kurang tidur, tentunya akan berpengaruh pada pikiran dan kesehatan. Kalau ini sudah terganggu, dikhawatirkan tidak bisa melayani pasien secara maksimal.

 

Selain tidur, dokter Bambang juga memiliki “tugas wajib” bagi kesehatan dirinya, yakni berjalan kaki. Setiap bangun tidur pagi hari dan sebelum beraktivitas, dokter Bambang selalu menyempatkan jalan kaki dan olah raga ringan lainnya. Pun demikian halnya ketika berada di rumah sakit.

 

Dokter yang kini telah menyandang status eyang ini tertarik menekuni onkologi karena belum banyak dokter yang menekuninya saat itu. Beruntung ia memiliki nilai tertinggi saat lulus dari Spesialis Onkologi di Fakultas Kedokteran Unair, sehingga dirinya berkesempatan untuk mendapat beasiswa spesialisasi Onkologi Radiasi di Rotterdam Belanda. Pendidikan ini ditempuhnya selama 14 bulan.

 

Disinggung mengenai pasien kanker, dokter kelahiran Jawa Tengah 1940 ini berpesan bahwa pasien kanker harus memiliki semangat hidup tinggi. Terutama dari dalam dirinya sendiri. Sembilan puluh persen semangat itu berasal dari diri pasien. Sisanya berupa dukungan dari keluarga dan sahabat. Pasien kanker harus memiliki rasa optimis untuk bisa sembuh, imbuhnya.